Lantai tiga Pagoda Qingling diselimuti aura yang jauh lebih pekat dan mencekam dibanding dua lantai sebelumnya. Di sudut ruangan yang luas dan kosong itu, berdiri Yan Ruyan dengan wajah terlihat menyeramkan, dia merasa kesal melihat tubuhnya terikat oleh rantai-rantai bercahaya yang melingkari tangan dan kakinya. Matanya menyala penuh amarah, dan aura panas membara berdenyut dari sekujur tubuhnya.

Begitu melihat Lynx dan Leena muncul di ambang tangga, Yan Ruyan menyeringai marah. “Kalian akhirnya datang juga,” ucapnya dengan suara tajam dan bergetar.

“Dewi!” seru Leena cepat, langkahnya maju tanpa ragu. “Maafkan kami. Ini... hanya kesalahpahaman. Lynx tak tahu siapa dirimu.”

Yan Ruyan mengangkat dagunya, matanya bersinar kemerahan. “Kesalahpahaman?” katanya tajam. “Kau beruntung karena artefak surgawi Pagoda Shenyuan ini membantumu. Jika tidak, sudah kuberi pelajaran karena berani melakukan ini padaku.”

Lynx dan Leena saling melirik, tercengang.

“Dewi... Pagoda ini bernama Qingling,” ucap Leena perlahan. “Bukan Pagoda Shenyuan.”

Mata Yan Ruyan menyipit. Ia menghela napas, lalu mendesis sinis. “Bodoh. Apa kalian mengira artefak biasa bisa menahan sosok sepertiku? Sejak awal kalian membawa Lala ketempat ini, aku sudah mengenali langsung tempat ini. Ini adalah Pagoda Shenyuan. Awalnya aku berencana merebutnya setelah kekuatanku pulih, tapi ternyata... tempat ini malah mengikatku lebih dulu! Lepaskan aku sekarang juga!”

Ia mengguncang rantai-rantai yang membelenggunya, memancarkan kilatan cahaya menyilaukan. Tapi rantai-rantai itu tetap tak bergeming.

Lynx mengerutkan kening, lalu mengangguk kecil. “Benar juga... jika Qian Xu berasal dari dunia surgawi dan dipenjara di tempat ini, maka benda ini pasti juga berasal dari sana. Mungkin nama Qingling hanya sebutan yang muncul karena tak ada yang tahu nama aslinya.”

Ia melangkah maju dan menatap rantai yang terikat pada Yan Ruyan, lalu mengangkat bahu dengan nada menggoda, “Aku tidak tahu cara melepaskanmu. Aku hanya menggunakan formasi penangkap jiwa saat itu. Tapi... pagoda ini malah mengeluarkan rantai sendiri untuk mengikatmu. Bukan salahku.”

Wajah Yan Ruyan semakin gelap. Ia mencibir, giginya terkatup rapat. “Kau... Pagoda ini tidak mungkin menuruti perintahmu untuk menangkapku kalau kau bukan pemiliknya! Cepat lepaskan aku sebelum aku membakar tubuhmu sampai tak bersisa!”

“Dewi, mohon jangan salahkan dia,” pinta Leena lembut. “Lynx tak bermaksud menyakitimu... semua ini hanya karena dia khawatir padaku.”

Leena menatap Lynx penuh harap, seolah memohon dengan tulus agar membebaskan gurunya. Lynx terdiam sejenak, menatap wajah Leena, lalu beralih pada sosok Yan Ruyan yang masih melotot dengan tatapan membunuh.

“Baiklah,” katanya akhirnya sambil berjalan mendekat. “Aku memang tidak tahu cara melepaskannya, tapi... kurasa bisa dengan cara ini.”

Ia meraih rantai di tangan Yan Ruyan dan mencengkeramnya. Dalam satu gerakan ringan namun mantap,

craackk!

rantai itu terputus, seperti kaca rapuh dihancurkan.

Yan Ruyan membelalak, terpaku.

Satu per satu, Lynx memutuskan seluruh belenggu, lalu menghancurkan sisa pengikat di pergelangan dan pergelangan kaki sang dewi. Rantai-rantai itu berubah menjadi serpihan cahaya lalu menghilang, menyisakan keheningan mencekam.

Yan Ruyan menatap tangannya yang kini bebas, wajahnya tercengang. “Ini... bagaimana bisa?” bisiknya lirih. “Rantai surgawi bisa dihancurkan semudah itu?”

Tatapannya beralih ke Lynx, kali ini tanpa kemarahan, melainkan keraguan dan rasa tak percaya. ‘Dia... bisa menghancurkannya seolah bukan apa-apa. Ah... tentu saja. Dia pemilik Pagoda Shenyuan ini sekarang. Artefak ini menuruti perintahnya… sepenuhnya, jadi dia bisa melakukan apapun dengan mudah di tempat ini.’

Yan Ruyan mengelus pergelangan tangannya yang terlepas dari belenggu. Tiba-tiba dia memukul Lynx dengan siku tangannya untuk membalas perlakuan Lynx. Gerakannya cepat dan mengandung energi surgawi.

DUAR!

Siku Yan Ruyan dengan tepat mengenai dada Lynx. Angin hempasan energi dengan kuat mendorong Leena yang berdiri disamping dalam kondisi tidak siap.

"Lynx..." Leena segera memanggil Lynx dengan panik dan penuh kekhawatiran.

"Rasakan, pukulan ini menjadi pelajaran untukmu agar lebih menghormatiku kedepannya." kata Yan Ruyan pelan sambil menahan nyeri di dadanya. Tanpa tubuh fisik, jiwanya mengalami goncangan seiring kekuatan yang dikeluarkan.

***

Dari langit malam yang kelam, empat sinar terang melesat cepat menembus awan dan menukik turun ke kedalaman jurang yang tersembunyi oleh kabut tebal. Mereka meluncur tanpa suara, seperti kilatan cahaya yang tak terlihat. Di ujung jurang itu, sebuah lembah terpencil terhampar, gelap dan sunyi, dikelilingi tebing-tebing tinggi yang menutupi tempat itu dari dunia luar.

Begitu tiba di lembah, keempat sinar tersebut berhenti di udara lalu perlahan berubah menjadi wujud manusia. Salah satu dari mereka, seorang wanita memandang sekitar dengan tatapan matanya yang tajam dan penuh kendali, menunjukkan bahwa dialah pemimpin mereka.

Tanpa mengucap sepatah kata pun, wanita itu mengangkat tangannya dan mengeluarkan sebuah kantung kain. Dari dalamnya, pasir emas berkilau keluar dan menari di udara sebelum jatuh perlahan ke tanah. Begitu menyentuh permukaan lembah, pasir-pasir itu mulai bergerak dengan sendirinya, berkumpul dan membentuk sosok manusia dari cahaya yang samar. Sosok itu berjalan perlahan, mengikuti jalur tertentu seolah mengulang jejak yang pernah dilewati seseorang.

Sosok itu terus berjalan hingga mencapai titik tertentu, lalu tubuhnya menghilang seketika, seperti lenyap ke dalam ruang yang tersembunyi.

“Itu dia,” bisik wanita tersebut dengan suara dingin dan datar. “Pasir Serintra ini sudah menunjukkan dimana jalan masuk menuju tempat mereka. Kita sudah berada di tempat yang tepat, kalian bertiga bersiaplah.”

Pasir Serintra hanya dikenal oleh kalangan penyihir pelacak kelas tinggi. Terbuat dari debu sihir yang dibuat dan ditanamkan energi khusus milik Mira. Agar dapat menjalankan misi dengan baik, Mira memberikannya kepada Rira.

"Rira, kita masuk sekarang." kata Rafin dengan pedang di tangan. Dia mengalami nasib yang sama dengan Rira, memiliki ingatan tanpa perasaan dan hanya mengikuti perintah dari Mira. Dia dan Rafin diberikan kekuatan khusus oleh Mira untuk membantu Rira menghadapi musuh-musuhnya.

Rira, maju perlahan. Ia menatap titik di mana sosok itu menghilang, lalu menoleh ke rekan-rekannya.

“Hati-hati. Mereka sudah bersembunyi sekian lama. Sudah pasti mereka sudah mempersiapkan diri dan tempat ini pasti sudah dipenuhi jebakan dan ilusi,” ucapnya pelan.

Ia lalu mengeluarkan kantung pasir lain dari ikat pinggangnya. Pasir itu tampak lebih buram, warnanya kehijauan, dan memancarkan sensasi aneh ketika disentuh udara. Ia meniupkan pasir itu ke udara. Butiran halus tersebut melayang, lalu mulai bergerak sendiri, bergetar perlahan saat mendekati dinding batu tertentu.

“Pasir Glaymur, tunjukkan apa yang tidak dapat dilihat oleh kami,” ucap Rira merapal mantra. Dengan pasir tersebut, dia ingin melihat batas ilusi yang menyembunyikan pintu masuknya.

Beberapa detik kemudian, lapisan tak kasat mata muncul seperti riak air. Dinding yang sebelumnya tampak biasa, kini terlihat bergetar, menandakan keberadaan penghalang energi yang sangat kuat.

Sementara itu, dibalik formasi yang menyembunyikan keberadaan kota tempat keluarga Baihuan berada, sebuah ruangan remang menyala oleh obor berwarna ungu. Seorang pria muda berlutut dengan kepala tertunduk di hadapan seorang pria tua yang duduk di atas singgasana mewah. Wajahnya penuh kerutan, namun matanya menyala dengan kilau merah yang tidak manusiawi.

“Ketua,” lapor si pemuda. “Beberapa orang asing kembali mendekati area kita.”

Pria tua itu tertawa lirih, suara tawanya terdengar serak. “Biarkan saja mereka masuk,” katanya sambil menyeringai. “Jangan halangi. Aku bisa merasakan... jejak energi iblis yang sangat samar pada salah satu dari mereka. Dia pasti pernah menyentuhnya.”

“Siap, Ketua.” Pemuda itu berdiri dan segera pergi memberi perintah kepada penjaga lainnya.

Ketua itu mengelus ujung janggutnya yang putih dan panjang dengan senyum misterius.

“Datanglah kalian... datanglah membawa fragmen lainnya,” gumamnya pelan, lalu tertawa lagi, kali ini lebih dalam dan penuh kegembiraan. “Fragmen senjata iblis akan kembali ke tanganku. Dan saat lima fragmen menyatu kembali… tak akan ada seorang pun yang bisa menghentikanku lagi.”

Matanya lalu memancarkan cahaya,"Lynx. Kamu menggagalkan rencanaku. Aku yakin batu meteor itu ada bersamamu dan memberimu kekuatan. Aku akan memaksamu menyerahkan batu itu kepadaku."

